Friday, 24 February 2017

Sejarah Perkembangan Dakwah Sebagai Ilmu

Sejarah Pperkembangan Dakwah Sebagai Ilmu
Ada yang mengatakan bahwa sejarah dakwah secara umum dimulai semanjak filosofi Yunani sebelum masehi. Tetapi sebenarnya jauh lebih tua dari itu. Sejarahnya dimulai sejak iblis mempengaruhi adam dan hawa dengan propogandanya yang sangat menarik dan memikat hati kedua nenek moyang itu untuk memakan buah khuldi yang terlarang itu, sebagaiman yang dikisahkan di dalam Al Qur’an surat Thaha ayat 120-121:
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi[948] dan kerajaan yang tidak akan binasa?"
Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia
Sejarah perkembangan ilmu dakwah tidak dapat dilepaskan dari sejarah dakwah itu sendiri. Sejauh ini sejarah perkembangan ilmu dakwah belum pernah dibahas oleh literatur-literatur ilmu dakwah. Karena ilmu dakwah tergolong kedalam ilmu yang masih baru.
Secara garis besar perkembangan ilmu dakwah adalah:
1.      Tahap  Konvensional.
Pada tahap ini dakwah masih merupakan kegiatan kemanusiaan berupa seruan atau ajakan untuk menganut dan mengamalkan ajaran Islam yang dilakukan secara konvensional, artinya dalam pelaksanaan secara operasional belum mendasar pada metode-metode ilmiah, akan tetapi berdasarkan pengalaman orang perorangan. Oleh karena itu, tahapan ini juga disebut dengan tahapan tradisional.
2.      Tahapan Sistematis.
Tahap ini merupakan tahap pertengahan, pada tahap ini  dakwah juga ditandai dengan adanya perhatian masyarakat yang lebih luas terhadap pelaksanaan dakwah islam sehingga memunculkan seminar, diskusi sarasehan, dan pertemuaan-pertemuan ilmiah lainnya, yang secara khusus membicarakan masalah yang berkenaan dengan dakwah. Tahap ini merupakan tahap yang sangat menetukan dalam tahap atau pengembagan selanjutnya sebab tahap-tahap gejala ilmu dakwah mulia kelihatan.
3.      Tahapan Ilmiah.
Pada tahap ini dakwah telah berhasil tersusun sebagai ilmu pengetahuan setelah melalui tahap sebelumya dan memenuhi syarat-syaratnya yang objektif, metodik, sistematik, sebagaimana telah disinggung pada pembahasan-pembahasan sebelumnya. Ini adalah berkat jasa para Ulama’ yang telah banyak berupaya untuk menyusun dan mengembangkannya dengan jalan mengadakan pembahasan dan penelitian kepustakaan maupun secara lapangan tentang fenomena-fenomena dakwah yang dianalisis lebih jauh dan telah melahirkan beberapa teori dakwah. Walaupun demikian tidak berarti ilmu ini lepas dari keraguan tentang eksistensi keilmuannya.
Ilmu dakwah mengalami proses perkembangan yang positif sehinnga semakin hari semakin estabilished sehingga semakin waktu mendapat sambutan dan pengakuan dari masyarakat mengenai eksistensinya.
Khusus untuk Indonesia, pengakuan ilmu dakwah ini pertama kali dapat dilihat dengan dibukanya jurusan dakwah pada fakultas yang ada di IAIN yang ada di sseluruh Indonesia dan ditambah dengan program pascasarjananya baik di S2 maupun S3 di seanatero Indonesia. Pengakuan masyarakat ilmiah tentang ilmu dakwah di atas juga diperkuat dengan hasil diskusi pembidangan ilmu agama Islam yang dilakukan oleh proyek pembinaan Perguruan Tinggi Agama Jakarta setelah mendapatkan dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bahwa dakwah Islamiah telah memiliki disiplin ilmu dakwah, bimbingan Islam, dll.

Makalah Metode Tabligh

BAB I
PENDAHULUAN
Seorang da’i atau mubaligh dalam menentukan strategi dakwahnya sangat memerlukan pengetahuan dan kecakapan di bidang metodologi. Selain itu bila pola berfikir kita berangkat dari pendekatan sistem (system apprach), di mana dakwah merupakan suatu sistem dan metodologi merupakan salah satu komponen dan unsurnya, maka metodologi mempunyai peranan dan kedudukan  yang sejajar atau sejajar dengan unsur- unsur lainya seperti tujuan dakwah, sasaran masyarakat, subyek dakwah (dai atau mubaligh). Dan tidak bisa ditinggalkan pentingnya sebuah  materi dakwah juga menentukan metode yang seperti apa yang nantinya akan dipergunakan dalam berdakwah.   
Ketika seseorang inggin berdakwah juga harus memperhatikan media dakwah yang mana juga memiliki peranan atau kedudukan sebagai penunjang tercapainya tujuan. Media dakwah mencangkup keseluruhan aktifitas (kegiatan) dakwah walaupun itu bersifat sederhana dan sementara. Dengan demikian media dakwah adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan. Media dakwah ini dapat berupa barang (material), orang, tempat, kondisi tertentu dan sebagainya.
Dalam semua aktivitas dakwah tentunya sebuah sasaran haruslah dirumuskan agar tujuan umum dakwah dapat tercapai dengan cara dan tahapan yang realistis. Jadi dari semua pemaparan di atas merupakan sarana untuk mencapai sebuah tujuan dakwah yang efektif dan efisien agar lebih jelasnya perlunya pembahasan yang lebih detail dalam makalah ini.

Makalah Pengorganisasian

PENGORGANISASIAN
A.    Pengertian Dan Hakekat Pengorganisasian
1.      Pengertian
Fungsi pengorganisasian (organizing = Pembagian kerja) berkaitan erat dengan fungsi perencanaan, krena pengorganisasian pun harus direncanakan. Pengertian pengorganisasian (organizing) dan organisasi (organization) berbeda. (S.P. Hasibuan, 2006: 118)
Pengorganisasian adalah funsgi manajemen dan merupakan suatu proses yang dinamis, sedangkan organisasi merupakan alat atau wadah yang statis. Pengorganisasian dapat diartikan, penentuan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan, penelompokan tugas-tugas dan membagi-bagikan pekerjaan kepada setiap karyawan, penetapan departemen – departemen (subsistem) serta penentuan hubungan-hubungan. (S.P. Hasibuan, 2006: 118)
Organizing berasal dari kata organize  yang berarti menciptakan struktur dengan bagian-bagian yang dintegrasikan sedemikian rupa, sehingga hubungannya satu sama lain terikat oleh hubungan terhadap keseluruhannya. Organisasi diartikan menggambarkan pola-pola, skema, bagan yang menunjukkan garis-garis perintah, kedudukan karyawan, hubungan-hubungan yang ada, dan lain sebagainya. (S.P. Hasibuan, 2006: 118)
Organisasi hanya merupakan “alat” dan “wadah” tempat manajer melakukan kegiatan-kegiatannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Hasil dari pengorganisasian adalah organisasi. Pengorganisasian diproses oleh organisator (manajer), hasilnya organisasi yang sifatnya statis. Jika pengorganisasian baik maka organisasi pun akan baik dan tujuan pun relatif mudah dicapai. (S.P. Hasibuan, 2006: 118)
Pengertian pengorganisasian dan organisasi ini, menurut para ahli adalah: (S.P. Hasibuan, 2006: 118)


a.       Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan
Pengorganisasian adalah suatu proses penentuan, pengelompokan, dan pengaturan bermacam-macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan, menempatkan orang-orang pada setiap aktivitas in, menyediakan alat-alat yang diperlukan, menetapkan wewenang yang secara relatif didelegasikan kepada setiap individu yang akan melakukan aktivitas-aktivitas tersebut.
b.      Drs. Soekarno K
Organisasi sebagai fungsi manajemen (organisasi dalam pengertian dinamis) adalah organisasi yang memberikan kemungkinan bagi manajemen dapat bergerak dalam batas-batas tertentu. Organisasi dalam arti dinamis berarti organisasi itu mengadakan pembagian kerja.
Kesimpulan defenisi-defenisi di atas adalah bahwa pengorganisasian (organizing) adalah fungsi manajemen, sifatnya dinamis dan merupakan proses untuk memperoleh organisasi (organization) yang menjadi alat dan wadah manajer melakukan aktivitasnya dalam mencapai tujuan (S.P. Hasibuan, 2006: 120)
c.       Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan
Organisasi adalah suatu sistem perserikatan formal, berstruktur, dan terkoordinasi dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu. Organisasi hanya merupaka alat dan wadah saja.
d.      Prof. Dr. Mr. S. Pradjudi Atmosudiro
Organisasi adalah struktur tata pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerja sama secara tertentu untuk bersama-sama mencapai suatu tujuan tertentu. (S.P. Hasibuan, 2006: 121)
Aspek-aspek penting dari defenisi-defenisi di atas, adalah:
a.       Adanya tujuan tertentu yang ingin dicapai.
b.      Adanya sistem kerja sama yang terstruktur dari sekelompok orang.
c.       Adanya pembagian kerja dan hubungan kerja antara sesama karyawan.
d.      Adanya penetapan dan pengelompokan pekerjaan yang terintegral.
e.       Adanya keterikatanformal dan tata tertib yang harus ditaati.
f.       Adanya pendelegasian wewenang dan koordinasi tugas-tugas.
g.      Adanya unsur-unsur dan alat-alat organisasi
h.      Adanya penempatan orang-orang dan alat-alat organisasi. (S.P. Hasibuan, 2006: 122)
2.      Hakikat Organisasi
Sebagai alat administrasi dan manajemen, organisasi dapat ditinjau dari dua sudut pandangan, pertama, organisasi dapat dipandang sebagai “wadah” di mana kegiatan-kegiatan administrasi dan manajemen dijalankan. Kedua, organisasi dapat dipandang sebagai proses di mana analisis interaction antara orang-orang yang menjadi anggota organisasi itu. (Siagian, 2014: 96)
a.       Organisasi sebagai wadah
Sebagai wadah organisasi adalam tempat di mana kegiatan-kegiatan administrasi dan manajemen dijalankan. Sebagai wadah organisasi bersifat “relatif statis”. Organisasi perlu memiliki suatu pola dasar struktur organisasi yang relatif permanen. Tetapi meskipun demikian berbagai perkembangan, seperti semkin kompleksnya tugas-tugas yang harus dilaksanakan, berubahnya tujuan, bergantinya pimpinan, beralihnya kegiatan, semuanya dapat merupakan faktor yang menuntut adanya perubahan dalam struktur suatu organisasi. (Siagian, 2014: 96)
b.      Organisasi sebagai Proses
Organisasi sebagai proses menyoroti interaksi antara orang-orang di dalam organisasi itu. Karenanya, organisasi sebagai proses, jauh lebih dinamis sifatnya dibandingkan dengan organisasi sebagai wadah. Organisasi sebagai proses membawa kita kepada pembahasan dua macam hubungan di dalam organisasi yang menimbulkan hubungan formal dan informal. (Siagian, 2014: 97)
Hubungan formal antara orang-orang dalam organisasi pada umumnya telah diatur dalam dasar hukum pendirian organisasi dan pada struktur organisasi serta hierarki yang terdapat dalam organisasi. Hubungan formal ini biasanya tergambar dalam bagan organisasi sesuai dengan dasar hukum yang telah ditentukan.
Sebaliknya, hubungan informal antara orang –orang di dalam organisasi tidak diatur dalam dasar hukum pendirian organisasi. Tidak pula terlihat dalam struktur organisasi. Juga tidak tergambar dalam bagan organisasi.
Dasar hubungan yang bersifat informal itu, antara lain adalah:
1)      Hubungan yang didsasarkan pada personal relations
2)      Kesamaan keahlian para anggota organisasi
3)      Kesamaan kepentingan dalam organisasi
4)      Kesamaan minat dalam kegiatan-kegiatan di luar organisasi seperti olahraga, koperasi dan lain-lain.
B.     Prinsip-prinsip Pengorganisasian
Dikatakan bahwa hasil pengogranisasian ialah terciptanya orgnisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka usaha pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Organisasi yang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (Siagian, 2014: 97)
1.      Terdapat tujuan yang jelas. Tanpa adanya tujuan yang  jelas, organisasi dapat diumpamakan dengan sebuah kapal yang berlayar tanpa mempunyai pelabuhan yang akan ditujunya.
2.      Tujuan organisasi harus dipahami oleh setiap orang di dalam organisasi. Apabila setiap orang di dalam organisasi mengetahui tujuan apa yang hendak dicapai organisasi ada beberapa hal yang dapat mereka laksanakan, yaitu
a.       mengetahui apa yang diharapkan oleh organisasi dari mereka masing­masing;
b.      dapat memahami apa yang mereka dapat harapkan dari organisasi;
c.       dapat menilai apakah tujuan organisasi itu sinkron dengan tujuan mereka pribadi;
d.      jika belum sinkron, mereka dapat memutuskan apakah berusaha untuk rnensinkronisasikan atau tidak, ataukah akan meninggalkan organisasi tersebut.
3.      Tujuan organisasi harus diterima oleh setiap orang dalam organisasi. Jika Para anggota organisasi menilai tujuan yang hendak dicapai itu merupakan tujuan yang layak amok dicapai, melalui mana tujuan mereka pribadi pun akan tercapai Pula, maka mereka akan lebih purdah untuk digerakkan memberikan pengorbanan-pengorbanan tertentu, balk dalam arti waktu, tenaga, keahlian, dan kemampuan yang maksimal. (Siagian, 2014: 98)
4.      Adanya kesatuan arah (unity of direction). Artinya bahwa semua kegiatan, semua sumber, semua pemikiran, keahlian, waktu, dan kemampuan ditujukan hanya kepada satu arah, yaitu pencapaian tujuan dengan cara yang seefisien dan seefektif mungkin.
5.      Adanya kesatuan perintah (unity of command). Hakikat prinsip ini ialah bahwa setiap orang bawahan hanya mempunyai seorang atasan langsung kepada siapa ia memberikan laporan dan pertanggungjawaban dan dari siapa ia menerima perintah, instruksi, bimbingan, dan pedoman keija.
6.      Adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab seseorang. prinsip ini sangat penting karena wewenang yang lebih besar dari tanggung jawab sering memudahnkan penyalahgunaan wewenang tersebut yang akibatnya akan merugikan organisasi. Sebaiiknya apabila tanggung jawab yang lebih besar dari wewenang, di dalam pelaksanaan togas kemungkinan besar akan timbal kemacetan-kemacetan, karma seseorang tidak akan merasa "aman" untuk melakukan sesuatu tindakan tertentu sebab raga-raga apakah tindakan itu masih dalam batas wewenangnya atau tidak. Perlu ditambahkan bahwa yang dimaksud dengan wewenang ialah hak seseorang menyuruh atau melarang orang lain bertindak, menyuruh atau melarang orang lain menggunakan sesuatu sumber dan atau alat. Yang dimaksud dengan tanggung jawab adalah kewajiban untuk melakukan tugas serta menggunakan alat yang telah dipercayakan kepada seseorang.
7.      Adanya pembagian tugas (distribution of work). Organisasi dalam arti filosofis adalah manifestasi kemampuan manusia untuk bekerja secara kooperatif. Karenanya, tugas-tugas yang terdapat di dalam organisasi harus
dibagi-bagi" sesuai dengan kemampuan, kcalilian dan bakat orang-orang di dalam organisasi. Dalam hubungan ini perlu diperhatikan bahwa biasanya di dalam suatu organisasi terdapat dua kelompok manusia, yakni sebagai berikut
a.       Kelompok manusia yang mempunyai kapasitas yang tinggi, daya kreasi yang besar serta daya prakarsa yang tinggi pula. Kepada mereka inilah diberikan tugas, tanggung jawab, dan wewenang yang lebih besar dan mereka inilah yang dikembangkan karena mempunyai potensi yang belum tergali.
b.      Kelompok manusia yang tidak terlalu senang menerima tanggung jawab, yang kurang daya kreasinya serta yang inisiatifnya rendah. Pada mulanya kepada orang-orang yang demikian tidak mungkin diberi tanggung jawab­apalagi wewenang–yang besar. Karena mereka memerlukan bimbingan yang tepat, pendidikan dan pelatihan yang intensif, pimpinan perlu melihat damempelajari dalam segi-segi mereka ini masih bisa dikembangkan.
8.      Struktur Organisasi harus disusun sesederhana mungkin
9.      Pola dasar organisasi harus relatif permanen.
10.  Adanya jaminan jabatan (Security of tenure). Hal ini berarti bahwa kelompok pimpinan tidak boleh memperlakukan bawahannya dengan semena-mena, misalnya dalam bentuk pemecatan tanpa alasan yang kuat.
11.  Imbalan yang diberikan kepada setiap orang harus setimpal dengan jasa yang diberikan
12.  Penempatan orang yang sesuai dengan kehaliannya (the right man on the right place)(Siagian, 2014: 99)



C.    Organisasi dan Rancangan Kerja
Menurut para ahli tentang organisasi dan rancangan kerja adalah:
1.      The Liang Gie
Struktur organisasi adalah kerangka yang mweujudkan pola tetap dari hubungan-hubungan di antara bidang-bidang kerja, maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan dan peranan masing-masing dalam kebulatan kerja sama.
2.      Drs. H. Malayu S.P Hasibuan
Struktur organisasi adalah suatu gambar yang menggambarkan tipe organisasi, pendepartemenan organisasi kedudukan dan jenis wewenang pejabat, bidang dan hubungan pekerjaan, garis perintah dan tanggung jawab, rentang kendali dan sistem pimpinan organisasi.
Suatu struktur organisasi akan memberikan infromasi tentang
1.      Tipe organisasi, artinya struktur organisasi akan memberikan informasi tentang tipe organisasi yang dipergunakan perusahaan, apa line organization, line and staff organization, atau functional organization.
2.      Pendepartemenan Organisasi artinya struktur organisasi akan memberikan informasi mengenai dasar pendepartemenan (bagian), apa berdasarkan fungsi manajemen, wilayah, produksi, shif dan lain sebagainya.
3.      Kedudukan, artinya struktur organisasi memberikan informasi mengenai apa seseorang termasuk kelompok manajerial atau karyawan operasional.
4.      Jenis wewenang, artinya struktur organisasi memberikan informasi tentang wewenang yang dimiliki seseorang, apa line authority, staff authority, atau functional authority.
5.      Rentang kendali, artinya struktur organisasi memberikan informasi mengenai jumlah karyawan pada setiap departemen (bagian)
6.      Manajer dan bawahan, artinya struktur organisasi memberikan informasi mengenai gais perintah dan tanggung jawab, siapa atasan dan siapa bawahan.
7.      Tingkatan manager, artinya struktur organisasi memberikan informasi tentang top manager, middle manager, dan lower manager.
8.      Bidang pekerjaan, artinya setiap kotak dalam struktur organisasi memberikan informasi mengenai tugas-tugas dan pekerjaan-pekerjaan serta tanggung jawab yang dilakukan pada bagian tersebut.
9.      Tingkat manajemen, artinya sebuah bagan tidak hanya menunjukkan manajer dan bawahn secara peroranga, tetapi juga hierarki manajemen secara keseluruhan. Semua karyawan yang melapor kepada orang yang sama berada pada tingkat manajemen yang sama, tidak jadi soal di mana mereka ditempatkan dalam organisasi.
10.  Pimpinan organisasi, artinya struktur organisasi memberikan informasi tentang apa pimpinan tunggal atau pimpinan kolektif, atau presidium. (S.P. Hasibuan, 2006: 127-128)
Langkah-langkah dalam pengorganisasian sebuah organisasi:
1.      Manajer harus mengetahui tujuan organisasi yang ingin dicapai, apakah profit motive atau service motive.
2.      Penentuan kegiatan-kegiatan, artinya manajer harus mengetahui, merumuskan dan menspesifikasikan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan.
3.      Pengelompokan kegiatan-kegiatan, artinya manajer harus mengelompokkan kegiatan-kegiatan ke dalam beberapa kelompok atas dasar tujuan yang sama. Kegiatan-kegiatan yang bersamaan dan berkaitan erat distukan ke dalam satu departemen atau satu bagian.
4.      Pendelegasian wewenang, artinya manajer harus menetapkan besarnya wewenang yang akan didelegasikan kepada setiap departemen.
5.      Rentang kendali, artinya manajer harus menetapkan jumlah karyawan pada setiap departemen atau bagian.
6.      Peranan perorangan, artinya manajer harus menetapkan dengan jelas tugas-tugas setiap individu karyawan, supaya tumpang tindih tugas dhindarkan.
7.      Tipe organisasi, artinya manajer harus menetapkan tipe organisasi apa yang akaj dipakai, apakah line organization, line and staff organizationataukah function organization.
8.      Struktur (organization chart= bagan organisasi), artinya manajer harus menetapkan struktur organisasi yang bagaimana yang akan dipergunakan, apa struktur organisasi “segitiga vertikal, segitiga horizontal, berbentuk
Jika proses pengorganisasian di atas dilakukan dengan baik dan berdasarkan ilmiah maka organisasi yang disusun akan baik, efektif, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan dalam mencapai tujuannya. (S.P. Hasibuan, 2006: 127)
D.    Wewenang dan Kekuasaan
Otoritas atau wewenang dan kekuatan (power) akan menentukan kemampuan seseorang menduduki status terentu. Otoritas adalah hak-hak yang melekat pada status yang diberikan kepadanya. Sedangkan kekuatan (power) adalah kemampuan seseorang untuk membuat orang lain mengerjakan sesuatu atau mengubah perilaku orang tersebut, terlepas dari apakah ia memegang status formal atau tidak. (Pidarta, 2004: 67)
Otoritas dan kekuatan itu ditentukan oleh tiga faktor yaitu faktor pengangkatan, faktor peranan (role), dan faktor pembawaan. (Pidarta, 2004: 68)
Faktor pengangkatan, seseorang yang diangkat secara sah oleh atasan untuk status tertentu, relatif akan dihormati dan dipatuhi oleh para bawahan sebab yang mengangkat mempunyai wewenang untuk itu sudah disahkan oleh para anggota organisasi dan atau oleh warga yang lebih luas.
Peranan (role) adalah perilaku yang diharap cocok dalam memegang status tertentu. Arti perilaku di sini mencakup kepribadian, keahlian, dan keterampilan yang cocok dengan status yang dipegangnya sudah tentu akan memiliki otoritas dan kekuatan (power) yang besar.
Faktor pembawaan kadang-kadang juga dapat meningkatkan otoritas dan kekuatan seseorang dalam status tertentu, selama orang bersangkutan mempunyai bakat untuk melaksanakan pekerjaan status yang dipercayakan kepadanya. Kalau hal ini terjadi maka orang mengatakan ia meliki karismatik.
Ketiga faktor penentu otoritas dan kekuatan itu perlu diperhatikan oleh orang-orang yang berwenang menempatkan seseorang dalam status tertentu. Penempatan orang-orang dalam statusnya dan dalam pekerjaannya disebut dengan istilah stafing.

Makalah Metode Ilmu Pengetahuan

PEMBAHASAN
Landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah, yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi, ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan disebut ilmiah, sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa disebut ilmu yakni tercantum dalam metode ilmiah.
Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan  sangat bergantung pada metode ilmiah. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integratif. Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan,diantaranya adalah:[1]
A.    Metode Induktif
Induksi yaitu suatu metode yang menyimpulkan pernyataan pernyataan hasil observasi dalam suatu pernyataan yang lebih umum dan menurut suatu pandangan yang luas diterima, ilmu-ilrnu empiris ditandai oleh metode induktif, disebut induktif bila bertolak dari pernyataan tunggal seperti gambaran mengenai hasil pengamatan dan penelitian orang sampai pada pernyataan ­pernyataan universal.
David Hume telah membangkitkan pertanyaan mengenai induksi yang membingungkan para filosof dari zamannya sampai sekarang. Menurut Hume, pernyataan yang berda observasi tunggal betapapun besar jumlahnya, secara logis tak dapat menghasilkan suatu pernyataan umum yang tak terbatas. dalam induksi setelah diperoleh pengetahuan, maka akan dipergunakan ha-hal lain, seperti ilmu mengajarkan kita bahwa kalau logam dipanasi juga akan mengembang, bertotak dari teori ini kita tahu bahwa logam lain yang kalau dipanasi juga akan mengambang. Dari contoh di atas bisa diketahui bahwa induksi tersebut memberikan suatu pengetahuan yang disebut juga dengn pengetahuan sintetik.[2]
Metode induksi adalah suatu cara atau jalan yang dipakai untuk mendapatkan ilmu pengetahuan ilmiah dengan bertitik tolak dari pengamatan atas hal-hal atau masalah yang bersifat khusus, kemudian menarik kesimpulan yang bersifat umum. Apabila orang menerapkan cara penalaran yang bersifat induktif berarti orang bergerak dari bawah ke atas. Artinya, dalam hal ini orang mengawali suatu penalaran dengan memberikan contoh-contoh tentang peristiwa-peristiwa khusus yang sejenis kemudian menarik kesimpulan yang bersifat umum.[3]
B.     Metode Deduktif
Deduksi adalah suatu metode yang menyimpan bahwa data­-data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang harus ada dalam metode deduktif ialah adanya perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpulan itu sendiri. Ada bentuk logis teori itu dengan tujuan apakah teori tersebut mempunyai sifat empiris atau ilmiah, ada perbandingan dengan teori-teori lain dan ada pengujian teori dengan jalan rnenerapkan secara empiris kesimpulan-kesimpulan yang bisa ditarik dari teori tersebut.
Popper tidak pernah menganggap bahwa kita dapat membuktikan kebenaran teori-teori dari kebenaran pernyataan-pernyataan yang bersifat tunggal. Tidak pernah dia menganggap bahwa berkat kesimpulan-kesimpulan yang telah diverifikasikan teori ini dapat dikukuhkan sebagai benar atau bahkan hanya mungkin benar, sebagai contoh, harga akan turun. Karena penurunan beras besar. maka harga beras akan turun.[4]
Metode deduksi adalah suatu cara yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah dengan bertitik tolak dari pengamatan atas hal-hal atau masalah yag bersifat umum, kemudian menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Apabila orang menerapkan cara penalaran yang bersifat deduktif berarti orang bergerak dari atas menuju ke bawah. Artinya, sebagai langkah pertama orang menentukan satu sikap tertentu dalam menghadapi masalah tertentu, dan berdasarkan aatas penentuan sikap tadi kemudian mengambil kesimpulan dalam tingkatan yang lebih rendah.[5]
C.    Metode Positivisme
Metode ini dikeluarkan oleh August Comte. Metode ini berpangkal dari apa yang diketahui yang faktual yang positif. Dia menyampingkan segala uraian persoalan di luar yang ada sebagai fakta oleh karena itu, ia menolak metafisika yang diketahui positif, adalah segala yang nampak dan segala efode ini dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan diatasi kepada bidang gejala-gejala saja.
Menurut Comte, Perkembangan pemikiran manusia ber­langsung dalam tiga tahap teologis metafisis, dan positif. Pada tahap teologis, orang berkeyakinan bahwa dibalik segala sesuatu hehendak khusus. Pada tahap metafisik, kekuatan itu diubah menjadi kekuatan yang abstrak, yang dipersatukan dalam pengertian yang bersifat umum yang disebut alam dan dipandangnya sebagai asal dari segala gejala.
Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang menyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktualfisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari.

Makalah Hadits Tarbawi

KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyusun makalah ini yang berjudul “Peduli Lingkungan” Sholawat serta salam penulis sanjung agungkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman kegelapan sampai terang benderang sekarang ini. Makalah ini dibuat selain untuk melengkapi tugas mata kuliah “Hadits Tarbawi” juga memberi wawasan bagi pembaca dan penulis khususnya.
Makalah ini berusaha untuk menyajikan pengetahuan dan penjabaran tentang perkembangan seni dan budaya  yang bermanfaat bagi pembaca dan khususnya bagi penulis.
Penulis menyadari makalah ini jauh dari sebuah kesempurnaan, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun bagi penulis agar menjadi pelajaran yang berharga khususnya bagi penulis dan pembaca.


Way Jepara,      Maret 2012

   Penulis










BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Disisi lain proses perkembangan dan pendidikan manusia tidak hanya terjadi dan dipengaruhi oleh proses pendidikan yang ada dalam sistem pendidikan formal (sekolah) saja. Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Ketiga lingkungan itu sering disebut sebagai tripusat pendidikan. Dengan kata lain proses perkembangan pendidikan manusia untuk mancapai hasil yang maksimal tidak hanya tergantung tentang bagaimana sistem pendidikan formal dijalankan. Namun juga tergantung pada lingkungan pendidikan yang berada di luar lingkungan formal. Salah satu yang memungkinkan proses kependidikan islam berlangsung secara konsisten dan berkesenambungan dalam rangka mencapai tujuannya adalah institusi atau kelembagaan pendidikan islam adalah institusiatau lembaga dimana lembaga itu berlangsung. Namun demikian, dapat di pahami bahwa lingkungan tarbiyah islamiyah itu adalah suatu lingkungan yang didalamnyan terdapat ciri-ciri keislaman yang memungkinkan terselenggaranya pendidikan islam dengan baik.

B.  Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang ada, maka dapat diambil sebuah rumusan masalah sederhana sebagai berikut:
1.      Apa yang di maksud dengan lingkungan pendidikan?
2.      Apa tafsir dari Q.S, Asy-Syur’ara ayat 18?
3.      Apa tafsir dari Q.S, Al-Kahfi ayat 46?
4.      Bagaimana tafsir dari Q.S, Al-Tahrim ayat 6?
5.      Bagaimana tafsir dari Q.S, An-Nuur ayat 59?


C.  Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan penulisan makalah ini diantaranya bertujuan untuk:
1.    Agar mengetahui dan memahami pengertian dari lingkungan pendidikan.
2.    Agar mengetahui dan memahami penafsiran dari Q.S, Asy-Syur’ara ayat 18.
3.    Agar memahami panafsiran dari Q.S, Al-Kahfi ayat 46.
4.    Agar mampu memahami dan menganalisis tafsir dari Q.S, At-Tahrim ayat 6.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Lingkungan Pendidikan
Pendidikan adalah usaha yang dijalankan seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.Pengertian pendidikan menurut para ahli :
1.    langeveld
Pendidikan lingkungan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju pada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri.
2.    John Dewey
Pendidikan lingkungan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesame manusia.
3.    Ki Hajar Dewantara
Pendidikan lingkungan adalah tuntunan didalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak itu, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
4.    Prof. Dr. Emil Salim
Lingkungan hidup adalah segala benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati dan mempengaruhi hal-hal yang hidup termasuk kehidupan manusia.

Pendidikan dalam arti luas adalah segala pengalaman belajar diberbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh posotif bagi perkembangan individu. Pendidikan dalam arti sempit identik dengan kegiatan belar mengajar di sekolah ( Schooling ), yaitu pendidikan yang dilakukan secara sadar , terencana, terarah, memiliki tujuan serta terkontrol secara formal dan berlaku bagi mereka yang menjadi siswa pada suatu sekolah atau Mahasiswa pada Perguruan Tinggi. Menurut UU SPN No.20 Tahun 2003 “ Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dalam proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlakul karimah, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, Masyarakat, bangsa dan negara”.
 Lingkungan adalah kesatuan ruang dengan segala makhluk hidup maupun makhluk tak hidup dan daya serta manusia dengan semua perilakunya yang saling berhubungan secara timbal balik, jika ada perubahan pada salah satu komponen maka akan mempengaruhi komponen yang lainnya.[1]

B.     Pandangan Islam Mengenai Lingkungan Pendidikan
Manusia adalah “makhluk sosial”. Hal ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang hal tersebut. Khalaqa al-insaana min ‘alaq bukan hanya diartikan sebagai “menciptakan manusia dari segumpal darah” atau “sesuatu yang berdempet di dinding rahim”, akan tetapi juga dapat dipahami sebagai “diciptakan dinding dalam keadaan selalu bergantung kepada pihak lain atau tidak dapat hidup sendiri”.[2]
 Dari hal itu dapat dipahami bahwa manusia dengan seluruh perwatakan dan pertumbuhannya adalah hasil pencapaian dua faktor, yaitu faktor warisan dan faktor lingkungan. Faktor inilah yang mempengaruhi manusia dalam berinteraksi dengannya semenjak ia menjadi embrio hingga akhir hayat. Kemudian, lingkungan yang nyaman dan mendukung bagi terselenggaranya suatu pendidikan sangat dibutuhkan dan turut berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan. Demikian pula dalam sistem pendidikan Islam, lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sesuai dengan karakteristik pendidikan Islam itu sendiri.
Meskipun lingkungan tidak bertanggung jawab terhadap kedewasaan anak didik, namun lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan dan pengaruhnya sangat besar terhadap anak didik. Sebab, bagaimanapun seorang anak tinggal dalam suatu lingkungan, disadari atau tidak, lingkungan tersebut akan mempengaruhi anak tersebut.
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan ‘fitrah’. Namun, kedua orang tuanya(mewakili lingkungan) mungkin dapat menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Hal ini menunjukkan bahwa Islam mengakui potensi lingkungan yang pengaruhnya dapat sangat kuat sehingga sangat mungkin dapat mengalahkan fitrah.
Lingkungan yang buruk dapat merintangi pembawaan yang baik, tetapi lingkungan yang baik tidak dapat menjadi pengganti sesuatu pembawaan yang baik. Daerah yang penuh kejahatan dan kesempatan latihan yang kurang, akan menimbulkan kebiasaan-kebiasaan yang buruk dan akan membatasi prestasi seseorang yang memiliki kemampuan. Begitu juga lingkungan yang baik tidak dapat menjadikan orang-orang yang lemah pikiran menjadi orang yang pandai atau orang yang tidak berbakat menjadi berbakat, walaupun diakui dan tidak diragukan lagi bahwa lingkungan yang baik, latihan-latihan yang baik akan membantu memperbaiki tingkahlaku dan mendapat tempat di masyarakat.[3]

Adapun mengenai hadits Rosulullah S.a.w tentang peduli lingkungan ini banyak sekali, salah satu diantaranya sebagai berikut :
1.      Larangan Menelantarkan Lahan
حَدِيْثُ جَابِرِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ رضى الله عنهما, قَالَ : كَانَتْ لِرِجَالٍ مِنَّا فُضُوْلُ اَرَضِيْنَ, فَقَالُوْا نُؤَاجِرُهَا بِالثُّلُثِ وَالرُّبُعِ وَالنِّصْفِ, فَقَالَ النَّبِىُّ ص.م. : مَنْ كَانَتْ لَهُ اَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا اَوْلِيَمْنَحْهَا اَخَاهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُمْسِكْ أَرْضَهُ.
“ Hadist Jabir bin Abdullah r.a. dia berkata : Ada beberapa orang dari kami mempunyai simpanan tanah. Lalu mereka berkata: Kami akan sewakan tanah itu (untuk mengelolahnya) dengan sepertiga hasilnya, seperempat dan seperdua. Rosulullah S.a.w. bersabda: Barangsiapa ada memiliki tanah, maka hendaklah ia tanami atau serahkan kepada saudaranya (untuk dimanfaatkan), maka jika ia enggan, hendaklah ia memperhatikan sendiri memelihara tanah itu. “ (HR. Imam Bukhori dalam kitab Al-Hibbah)